Dosen PIPS Unesa Paparkan Riset Mendukung SDGs 4 dan 8 di Simposium Global Sustainability Education di Hamburg, Jerman
Hamburg, Jerman, 1 Desember 2025 - Kota Hamburg menjadi lokasi para periset global dan pengajar dari berbagai negara untuk hadir pada Symposium on Global Sustainability Education: Innovations in Digital & International Teaching , yang diselenggarakan di Hamburg University of Applied Science ( HAW Hamburg) . Dalam forum ilmiah yang dipimpin oleh ilmuwan dunia Prof. Walter Leal, Ph.D. , peneliti Top 2% World Scientist , delegasi
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi salah satu delegasi dari Asia Tenggara untuk komitmen pada SDGs 4 dan 8.
Melalui tiga pemaparan utama yang dibawakan oleh Dr. Hendri Prastiyono, M.Pd., dkk. , Dr. Bambang Sigit Widodo, M.Pd., dkk. dan Jauhar Wahyuni, MIKom., dkk. , Unesa menunjukkan strategi perguruan tinggi Indonesia dapat menjadi lokomotif integrasi SDGs 4 ( Pendidikan Berkualitas ) , SDGs 5 ( Kesetaraan Gender ) dan SDGs 8 ( Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi ) melalui inovasi pendidikan, kolaborasi pentahelix, kepercayaan berlebihan perempuan muda pada AI serta penguatan literasi digital berbasis kecerdasan buatan.
Penguatan SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Melalui Pentahelix Akademik
Foto: Dr. Hendri Prastiyono menyampaikan hasil penelitian GNRM dalam menghadapi Akademisi Global.
Presentasi Dr. Hendri tentang “ Higher Education and Academic Participatory: A Pentahelix Model for Advancing Sustainability Education in Indonesia ” yang disampaikan dalam forum menegaskan langkah-langkah Unesa menggunakan pendekatan pentahelix antara akademisi, pemerintah, media, dunia usaha, dan masyarakat dapat meningkatkan kualitas pendidikan berkelanjutan.
Strategi pendidikan Indonesia kini terhubung dengan pengajaran-penelitian-pengabdian kepada masyarakat melalui koordinasi multi-aktor lintas sektoral dan lintas pulau. Penelitian ini melibatkan 160 akademisi dari 10 universitas besar Indonesia , 100 peserta FGD pentahelix , dan 1.622 responden survei dari lima pulau besar Indonesia . Dr. Hendri memaparkan bahwa ada pengaruh yang sangat kuat antara kolaborasi pentahelix, partisipasi akademik, dan pendidikan berkelanjutan pada implementasi konkret GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental) berupa pelayanan publik, gerakan bersih, ketertiban lalu lintas lintas, kewirausahaan domestik, hingga budaya gotong royong.
Prof. Walter Leal , selaku direktur SDGs di HAW Hamburg, menilai kontribusi ini sangat strategis:
“Unesa menunjukkan peran universitas di Global South dapat memadukan data, budaya, dan kebijakan nasional untuk memperkuat kualitas pendidikan. Model pentahelix yang mereka terapkan tidak hanya relevan untuk Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara lain yang ingin mempercepat SDGs 4.”
Lindokuhle Denis Sibiya, Ph.D. , sejarawan dari University of South Africa, memberikan tanggapan:
“Living Labs yang dibangun kampus-kampus di Indonesia, termasuk Unesa, menunjukkan bagaimana mahasiswa dipersiapkan untuk pekerjaan masa depan. Ini bukan hanya pendidikan, tetapi akselerator ekonomi digital yang inklusif.”
Sementara itu, Dr. Iryna Shvetsova
dari Akademi Maritim Negeri Kherson menambahkan:
“Integrasi literasi AI dan kesetaraan gender yang ditampilkan Unesa adalah model yang dapat direplikasi di negara-negara berkembang lainnya. Mereka bergerak cepat menuju SDGs 8 dengan pendekatan yang sangat berpusat pada manusia.”
Kontribusi periset Unesa melalui kajian pentahelix dan living labs menampilkan bahwa perguruan tinggi Indonesia tidak lagi hanya menjadi peserta, tetapi produsen pengetahuan global yang ikut aktif dalam diskusi kontemporer mengenai pariwisata, transformasi digital, dan ekonomi masa depan. Dan simposium ini menguatkan Unesa dalam memberikan model konteks, data empiris, dan inovasi pendidikan yang diakui komunitas akademik dunia.